Filled Under:

SEBARKAN !! Biar Semua Tahu Sebelum Di DELETE FB Inilah Jenis Makanan Yang Tersenarai Mengandungi Pengawet Mayat



Tahu berformalin sitaan Polda Metro Jaya. (Liputan6.com/Audrey Santoso)

Dokter forensik sekaligus pengajar dari Universitas Indonesia Djaja Surya Atmadja mengatakan formalin merupakan bahan kimia yang bersifat korosif. Organ tubuh yang terpapar zat ini akan cepat rusak sehingga tidak bisa berfungsi normal. Konsumsi formalin dalam jangka panjang bakal memicu kelainan perkembangbiakan sel. Menurut dia, formalin diketahui bersifat karsinogenik. Jika dikonsumsi dalam waktu panjang akan menyebabkan kanker, kata Djaja.

Dia mengatakan, banyak jenis kanker yang bisa dipicu formalin. Di antaranya kanker hidung, kulit, otak, dan usus. Adalah kanker usus yang disebutnya sebagai penyakit yang paling banyak diderita orang yang mengkonsumsi formalin.

4.png


Sampel liver manusia yang mengeras setelah terpapar zat pengawet formalin. Liver mengeras akibat reaksi penggumpalan protein oleh formalin.

Djaja menunjukkan efek formalin terhadap organ dengan membawa sampel liver manusia yang telah direndam formalin. Potongan hati seukuran jempol kaki orang dewasa itu berwarna hitam dan keras.

Menurut dia, pengerasan itu terjadi karena formalin bereaksi dengan protein yang ada di dalamhati. Reaksi tersebut, katanya, menyebabkan gumpalan protein yang kemudian mengeraskan organ.

Organ-organ yang terpapar formalin akan mengalami kejadian yang sama, ujarnya.

Menurut Djaja, ilmu kedokteran hingga saat ini belum bisa membalikkan proses penggumpalan protein oleh formalin tersebut. Akibatnya, pengerasan organ tubuh akibat formalin bersifat permanen.

Tertata rapi dalam lemari pendingin, anggur yang dijajakan sebuah pasar swalayan ternama di kawasan Jakarta Selatan menarik perhatian. Kemasan plastik yang membalut buah anggur tersebut seperti menjamin kehigienisan buah impor tersebut.

Tim Liputan6.com membeli sebungkus anggur tersebut. Pasar swalayan membanderol anggur seberat hampir 0,5 kilogram itu seharga Rp 70.000. Kasir swalayan membubuhkan label fresh pada bungkus anggur untuk sebagai jaminan kesegaran buah. Belakangan pengujian Balai Besar POM membuktikan anggur tersebut mengandung formalin.

5.jpg


Ilustrasi buah anggur di rak buah-buahan pasar swalayan. (Istimewa)

Pengetesan yang sama oleh Balai Besar POM Jakarta menunjukkan anggur yang diambil dari pasar swalayan lain tidak mengandung formalin. Tim Liputan6.com tidak menemukan perbedaan ketika membandingkan fisik dan bau dua sampel tersebut.

Kepala Balai Besar POM Jakarta Dewi Prawitasari mengatakan formalin pada anggur biasanya masuk ke dalam pori buah sehingga lebih susah untuk diperiksa tekstur dan baunya. Formalin pada pori buah inilah, katanya, yang sulit dibersihkan meski setiap pelanggan membilas anggur sebelum dimakan.

Dia membandingkannya dengan formalin pada tahu yang tersebar merata dalam seluruh adonan. 
Menurut dia, formalin pada tahu bisa dilacak dengan penciuman. Tahu berformalin biasanya memiliki bau kimia yang kuat. Sedangkan tahu yang bebas formalin mengeluarkan bau segar khas kedelai. Tahu berformalin juga mengalami perubahan tekstur menjadi lebih kenyal.

6.png


Anak-anak sekolah dasar mendengarkan penjelasan Badan POM mengenai bahaya formalin pada jajajan. (Liputan6.com/M. Khadafi)

Dokter forensik sekaligus pengajar dari Universitas Indonesia Djaja Surya Atmadja memberikan kiat yang sama untuk memeriksa kandungan formalin pada tahu. Menurut dia, tekstur kenyal cenderung keras pada tahu bisa menjadi indikator keberadaan formalin. Tahu yang tidak membusuk dan berbau setelah dibiarkan lebih dari 6 jam pada suhu kamar juga mengindikasikan adanya cemaran formalin.

Tim Liputan6.com menguji tahu yang dijual di pasar tradisional menggunakan alat uji seperti yang digunakan Balai Besar POM Jakarta. Sampel tahu yang dikumpulkan dari tiga pasar tradisional di Jakarta Selatan menunjukkan keberadaan formalinditunjukkan dengan perubahan warna sampel menjadi ungu ketika dicampur cairan pengujian. Tahu berformalin itu bertekstur keras dan berbau khas zat kimia.

Balai Besar POM Jakarta rutin mengirimkan mobil laboratorium keliling ke sekolah-sekolah. Pengujian lapangan di salah satu sekolah dasar di Jakarta Selatan menunjukkan formalin juga masih beredar di jajanan untuk anak-anak.

#Deputi Bidang Pengawasan Keamanan Pangan dan Bahan Berbahaya Badan POM Suratmono mengatakan terjadi penurunan temuan pencemaran makanan oleh zat berbahaya seperti formalin. 

Menurut dia, tingkat pencemaran bahan berbahaya secara nasional pada 2010 mencapai 45 persen. Badan POM mengkategorikan makanan tercemar ini sebagai makanan tidak memenuhi syarat. Tahun lalu, level pencemaran itu menurun menjadi 23 persen. Penyalahgunaan bahan berbahaya (seperti formalin) sekitar 4-6 persen, katanya ketika ditemui di Jakarta, Kamis, 18 Februari 2016.

7.png


Mi kuning basah termasuk jenis makanan yang paling sering bercampur formalin selain tahu dan bakso. (Liputan6.com/M. Khadafi)

Menurut dia, penurunan temuan pencemaran formalin itu terjadi di seluruh provinsi. Namun, dia menyebut DKI Jakarta masih menjadi daerah dengan temuan tertinggi di Indonesia.

Badan POM, Suratmono menjelaskan, menggalakkan program pasar aman di seluruh Indonesia. 

Program ini memantau 77 pasar yang dipilih sebagai pasar percontohan yang bebas makanan tidak memenuhi syarat. Di Jakarta terdapat 5 pasar percontohan ini.

8.jpg


#Badan POM melakukan inspeksi mendadak jajanan sekolah mengandung formalin di Jakarta, Senin (13/04/2015). (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Kepala Balai Besar POM Jakarta Dewi Prawitasari membenarkan terjadinya penurunan temuan makanan berformalin di lima pasar percontohan. Data Balai Besar POM menunjukkan level makanan tidak memenuhi syarat mencapai 23,2 persen pada 2013. Angka ini menurun menjadi 14,8 persen pada 2015.

Ihwal posisi DKI Jakarta sebagai pemuncak provinsi dengan tingkat pencemaran formalin dan zat berbahaya, dia beralasan lantaran Balai Besar POM DKI Jakarta paling sering melakukan pengujian ke pasar. Tingginya frekuensi pengujian itu, katanya, menyebabkan lebih banyak temuan di lapangan. Setiap pekan kami mengirimkan laboratorium bergerak ke pasar-pasar, ujar Dewi.

Dari hasil penelitian datas sebaiknya kita harus lebih hati hati terhadap makanan yang tak asing lagi kita jumpai, dan jangan lagi makan makanan yang dudah d teliti diatas ( di kutip dari liputan 6 )
silahkan bagikan dan sebarkan 

Formalin merupakan senyawa kimia yang terbentuk dari reaksi oksidasi metanol. Salah satu sifat formalin adalah mematikan bakteri pembusuk. Karena itu formalin banyak dipakai sebagai pembersih lantai atau zat pengawet mayat.

#Selain tahu, pengujian juga dilakukan terhadap sampel anggur impor yang juga dijajakan di pasar swalayan. Hasilnya, dua dari empat sampel yang diambil dari pasar swalayan berbeda positif mengandung formalin. Seorang teman Nunik mendadak cemas terhadap hasil pengujian tersebut. Padahal saya sering beli anggur di pasar swalayan ini, katanya dengan mimik wajah khawatir.

Sumber: kekitamedianetwork




0 comments:

Post a Comment